
Di abad 21 ini, medium audio-visual menjadi salah satu ujung tombak perkembangan dan penyeberan informasi di seluruh dunia. Hampir orang diseluruh dunia (terlepas dari umur, ras, ataupun kelas sosialnya) dapat mengakses medium audio-visual seperti siaran televisi, menonton film bioskop, ataupun membuka laman di youtube dengan hampir tanpa hambatan. Informasi yang dapat disampaikan pun beragam, sebut saja film fiksi, film dokumenter, siaran berita, ataupun siaran langsung pertandingan sepakbola.
Pertanyaan sekarang adalah: apa yang anak muda dapat lakukan dengan kamera?
2nd Unesco – Korea International DMZ Film Camp diselenggarakan oleh Korean National Commision for Unesco dan DMZ Documentary Film Festival. Diadakan di kota Paju, sebuah kota yang terletak di dekat garis perbatasan Korea Utara & Korea Selatan, para peserta merupakan anak muda dari Korea dan belahan dunia lainnya (seperti Indonesia, Perancis, Filipina, Mexico, Russia hingga Montenegro) berkesempatan untuk mempelajari perpaduan unik antara film dan sejarah Korea dimana negara tersebut terbagi menjadi 2 karena perang saudara.
Hari pertama di film camp kami dikejutkan oleh kedatangan seorang aktor terkenal Korea, Yoo Ji-Tae (pemeran antagonis di film blockbuster Korea, Oldboy) yang ternyata merupakan deputy director DMZ Documentary Film Festival. Walaupun seorang aktor papan atas, beliau tetap rendah hati dan tetap melayani permintaan penggemarnya sambil tersenyum. Oh ya, ternyata baru-baru ia baru dari Indonesia!
Kembali ke film camp, disini kami mengikuti seminar yang mencakup sejarah Korea dan pelajaran dasar pembuatan film. Seminar paling menarik dari film camp adalah seminar oleh Mr. Francis Daehoon Lee, dosen Peace Studies dari Universitas Sung Koo Hoe dimana beliau membagi ilmunya tentang ‘damai’. Damai ternyata bukan hanya sebuah kata namun sebuah sikap dalam kehidupan yang sesungguhnya dapat dipelajari dan diterapkan.
Memasuki paruh kedua film camp, para peserta dibagi menjadi 8 kelompok dan ditantang untuk membuat sebuah film yang mencakup 3 topik: Peace, Communication dan Environment. Disini tantangan dimulai! Topik-topik tersebut ternyata tidak hanya menjadi topik bahasan untuk materi pembuatan film, tapi juga dirasakan oleh peserta rasakan di kehidupan sehari. Perbedaan budaya dan hambatan komunikasi menjadi sesuatu hal yang lumayan menantang peserta saat membuat film, tapi dengan persamaan visi dan bimbingan mentor-mentor yang merupakan praktisi perfilman Korea kami dapat melalui rintangan dan berhasil membuat film!
Walaupun kebanyakan dari peserta belum pernah membuat film sebelumnya, tapi semangat dan keingitahuan mereka membuat proses pembuatan film menjadi lebih menyenangkan. Hampir selama tiga hari berturut-turut kami lalui tanpa tidur demi menyelesaikan film kami…dan hasilnya ternyata keren! Delapan film yang menceritakan kisah yang bervariasi, dari dokumenter tentang apakah anak muda Korea mengetahui sejarah perpecahan Korea sampai film perang tentang rasa kehilangan seorang prajurit muda, membuat kami semua tersenyum bangga terhadap karya kami!
Sebuah ide akan selamanya akan terpendam di benak anda bila anda tidak membaginya dengan orang lain. Nah, anda ingin seluruh dunia mendengarkan ide anda? Mungkin anda bisa membuat sebuah film! Kami sudah melakukannya di Korea!
Kamsahamnida!
(Kontributor: Adhyatmika)



















